• 1 year ago/19 Aug 2022

Sosialisasi PPI, terkait Covid-19, Pelaksanaan Hand hygiene, APD, Etika batuk dan penggunaan SpilKit kepada seluruh karyawan/ti diLingkungan RSJD Abepura.

Dalam rangka mencegah dan mengendalikan infeksi bersama, Rumah Sakit Jiwa Daerah (RSJD) Abepura menggelar Sosialisasi Program Pencegahan Infeksi Covid-19, Pelaksanaan Hand Hygiene, Etika Batuk, Penggunaan APD dan Penggunaan SpillKit Pada Seluruh Karyawan/i, House Keeping RSJD Abepura pada hari Kamis-Jumat, tanggal 18-19 Agustus 2022.

Kegiatan yang digelar oleh Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) RSJD Abepura ini dibuka oleh Plt. Direktur dr. Guy Yana Emma Come, MPH, Wadir Umum dan Keuangan Daniel L. Simunapendi, MM.M.Kes, Ketua Komite PPI sekaligus Kabaid Yanmed dr. Izak Samay, M.Kes.Sp.KJ, dan dihadiri karyawan-karyawati dari seluruh unit pelayanan rumah sakit.

Tampil sebagai pemateri adalah Yuliana Demetouw, S.Kep.Ns dan Riri Andayani, S.Kep.Ns selaku Infection Prevention and Control Nurse (IPCN) RSJD Abepura. Riri Ardayani menjelaskan, kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran bersama seluruh manajemen dan karyawan-karyawati untuk menggelorakan semangat mencegah penularan infeksi nosocomial di rumah sakit yang khusus menangani Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) itu.

“Kami meminta seluruh manajemen, karyawan dan petugas kesehatan untuk terus mematuhi protokol kesehatan dalam pelayanan. Apalagi saat ini Covid mulai naik lagi. Seluruh tindakan komunitas pekerja di rumah sakit sesuai standar PPI. Paling utama itu rajin cuci tangan karena itu adalah kunci yang paling utama mencegah virus atau bakteri,” kata Riri.

peserta melakukan tahapan 6 langka mencuci tangan

 

Dalam lingkup rumah sakit, Komite Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) itu semacam “KPK”-nya rumah sakit. Ia berperan untuk meningkatkan mutu layanan dengan melakukan kajian manajemen resiko, good clinical governance serta memastikan terjaminnya kesehatan dan keselamatan kerja bagi seluruh komunitas rumah sakit.

“Rumah sakit menjadi salah satu sumber infeksi terbesar dalam dunia kesehatan, dimana infeksi dapat berasal dari pasien, petugas, maupun pengunjung dengan obyek yang terkontaminasi berupa darah, saliva, sputum, cairan nasal, cairan dari luka, urin dan eksresi,”. Untuk itu, guna menekan terjadinya infeksi, ada baiknya kita meningkatkan kewaspadaan isolasi (isolation precautions) yang merupakan kombinasi dari kewaspadaan standar (standard precautions) dan kewaspadaan berbasis transmisi (transmission-based precautions). Kewaspadaan standar merupakan gabungan dari kewaspadaan universal (universal precautions) dan isolasi tubuh (body substance isolation) yang berlaku untuk semua pasien.

Kewaspadaan transmisi melalui kontak bertujuan menurunkan risiko timbulnya HAIs karena kontak langsung atau tidak langsung, misalnya kontak langsung dengan permukaan kulit yang terbuka dengan kulit terinfeksi atau kolonisasi maupun kontak tidak langsung berupa kontak dengan cairan sekresi pasien terinfeksi yang ditransmisikan melalui tangan petugas yang belum dicuci atau benda di sekitar pasien.

“Untuk menekan infeksi, hindari menyentuh permukaan lingkungan yang tidak berhubungan dengan perawatan pasien. Sedangkan jenis kewaspadaan transmisi melalui percikan dilakukan dengan menempatkan pasien di ruang rawat terpisah untuk membatasi terjadinya kontaminasi serta bila diperlukan, setiap kali keluar ruangan, pasien diberi respirasi dan etika batuk,”.

Di tengah pandemi Covid-19 ini, kesadaran para pekerja di RSJD Abepura untuk menggunakan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan kebiasan mencuci tangan kian meningkat. Animo ini makin tinggi dalam pantuan Komite PPI setempat.

“Mari kita terus budayakan selalu cuci tangan dan pakai masker,”.para peserta sosialisasi, panitia dan beberapa pejabat di lingkungan Rsjd Abepura